Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap Pabrik Tempe (Part #2)

Mumpung lagi ada waktu selama “lockdown” alias “work from home” dikarenakan ada virus Corona yang masih berkeliaran di muka bumi ini, maka saya mau nulis lagi neh…kelanjutan cerita si Adoel yang jadi korban ketidakadilan, kesewenag-wenangan,  mind-block, arogan, tidak ada niat baik, tidak ada integritas dari oknum pimpinan sebuah pabrik tempe yang berlokasi di kampoeng Oedik.

Bagi yang belum baca cerita bagian pertama Adoel, silahkan menuju ke TKP dengan klik disini.

Intisari dari bagian pertama.

Adoel yang punya keinginan sekolah dan akhirnya pada tahun 2012-2016 menjalankan tugas belajar kerja paket C (setingkat SMA) dengan beasiswa dari pemerintah. Dan setelah menyelesaikan studi kejar paket , Adoel kembali ke kampung halamannya dan melakukan administrasi lapor diri ke kantor dinas pendidikan pada 2017. Dari Agustus 2017 hingga September 2019, Adoel mendapat beasiswa kejar paket D dari sekolahnya selama 2 tahun. Beasiswa ini bukan dari pemerintah ataupun dari pabrik tempe….*beuh boro-boro. Tapi dipertengahan tahun kedua, setelah terjadi pergantian tampuk kepemimpinan di pabrik tempe, pihak pejabat pabrik tempe mulai mempermasalahan keberadaan Adoel. Mereka TIDAK MENGAKUI status studi lanjutnya si Adoel, dengan alasan Adoel tidak MENDAPAT IJIN dari pimpinan pabrik tempe. Padahal sebuah perjanjian kerjasama telah ditanda tangani pada Desember 2018 antara pabrik tempe dan tempat sekolah Adoel. Pejabat perusahaan tempe MEMAKSA Adoel untuk kembali dan bekerja di pabrik tempe.  Adoel sudah jelaskan secara tertulis….(*karena Adoel sudah bisa menulis sedikit lebih baik) kepada pimpinan pabrik bahwa Adoel belum bisa kembali ke pabrik hingga sekolahnya selesai pada Agustus 2019. Hingga akhirnya Adoel di PHK pada 13 Juni 2019. Dan terhitung tgl 30 Mei 2019, Adoel sudah bukan lagi karyawan tetap pabrik tempe. Tidak berhenti sampai disitu, kasus Adoel ini sudah dan didaftarkan oleh pihak pabrik tempe pada Disnakertrans sebagai kasus Perselisihan Hubungan Industri (PHI) antara pabrik tempe sebagai pelapor dan Adoel sebagai yang dilaporkan.

Persidangan.

Dikarenakan Adoel sedang berada jauh dari kampung halamannya dalam rangka menjalankan tugas dan niat suci yaitu belajar atau menuntut ilmu, maka untuk mengurus segala urusan yang terkait dengan kasus PHI di Disnakertrans tersebut, Adoel memohon bantuan jasa seorang pengacara. Selain Adoel yang buta tentang hukum, Adoel juga faham bahwa yang dia hadapi adalah sebuah pabrik tempe (yang merasa) besar dan Adoel hanyalah seorang mantan kuli pabrik tempe atau karyawan (yang merasa) kecil.

Surat panggilan pertama dari Disnakertrans, Adoel terima pada tanggal 25 Juli 2019 dan diminta hadir untuk memberikan klarifikasi terkait perselisihan yang diadukan oleh pabrik tempe. Pertemuan diadakan pada tanggal 31 Juli 2019. Adoel hanya punya waktu 5 hari untuk mempersiapkan. Setelah diperhitungkan dan mengingat Adoel masih berada jauh dari kampoeng halaman, sepertinya tidak mungkin untuk menghadiri undangan persidangan Disnakertrans. Jadi Adoel pikir bahwa Adoel perlu didampingi oleh seorang pengacara sebagai konsultan hukumnya. Adoel menulis surat ke seorang pengacara di kampoengnya dan menceritakan permasalahan. Pengacara meminta Adoel untuk membuat sebuah surat kuasa dan berita kronologis permasalahan berikut dengan melampirkan bukti-bukti atau fakta-fakta pendukung. Untungnya Adoel punya semua data-data dan arsip berupa dokumen-dokumen yang diperlukan. Setelah semua dokumen siap, Adoel segera lari ke kantor pos untuk mengirim dokumen tersebut ke alamat kantor pengacara dengan menggunakan jasa pengiriman pos kilat. Adoel berharap surat dan dokumen tersebut dapat sampai tepat waktu atau paling tidak sebelum tanggal 31 Juli 2019, hari persidangan pertama di Disnakertrans. Syukur alhamdulillah, surat dan dokumen Adoel sampai dengan selamat di kantor pengacara beberapa hari sebelum persidangan.

Pada sore hari setelah persidangan di Disnakertrans antara perwakilan pabrik tempe (diwakili Bpk DoedoenK) dan Adoel (diwakili oleh pengacara), Adoel menghubungi pengacara untuk mendapatkan informasi terkait hasil persidangan. Pengacara Adoel bilang, dia ‘shock’ dengan perwakilan pabrik tempe (Bpk DoedoenK) yang AROGAN kata-katanya, dan tidak ada niat baik sama sekali terhadap Adoel. Bpk DoedoenK mengaku sarjana lulusan luar negeri…*padahal hanya lulusan sarjana dalam negeri….^_^. Hari genee mana bisa bohong cuy….semua bisa di cek-N-ricek dari website resmi pemerintah tentang kesarjanaan seseorang. Terus maksudnya apa yah kira-kira kalau dia mengaku sarjana lulusan luar negeri ke pengacara Adoel. Sebagai info Bpk DoedoenK baru bekerja sekitar 2 tahun di pabrik tempe dan konon dia menjabat kepala biro hukum pada departemen SDM.

Pengacara Adoel bercerita ke Adoel tentang jalannya persidangan dan bagaimana kesan dia berhadapan dengan yang namanya Bpk DoedoenK yang AROGAN. Dan akhirnya Adoel bertukar informasi dengan pengacaranya dalam menjalani kasus PHI ini.  Kesimpulan dari persidangan pertama ini masih bersifat klarifikasi. Akan ada persidangan kedua dalam kurun waktu satu bulan berikutnya, yaitu persidangan mediasi. Dan persidangan ketiga berikutnya adalah persidangan keputusan.

Hari-hari berlalu…minggu berlalu…bulan berlalu. Adoel pun selesai kontrak beasiswa belajarnya di sekolahnya. Tapi karena Adoel sudah di PHK dari pabrik tempe, maka Adoel tidak bisa kembali ke pabrik tempe. Keadaan ini mendorong Adoel untuk ‘survive’ di kampoeng orang sendirian. Adoel pun mulai melamar pekerjaan kemana-mana dengan berbekal selembar ijasah kejar paket C dan pengalaman selama di kampoeng halamannya. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan di kampoeng orang lain. Karena Adoel akan tetap dianggap ‘orang asing’.  Perkerjaan apapun Adoel lakukan agar tetap bisa menyambung hidup di kampoeng orang. Beberapa pekerjaan freelance pun Adoel ambil yang penting halal dan berkah buat dirinya. Dan tetap bisa mengirim sedikit uang ke orang tua di kampoeng halamannya seperti biasa. Hampir tiap minggu Adoel menelpon orang tuanya yang sudah mulai tua. Rasa kangen yang hebat selalu singgah dalam hati dan perasaannya ketika berbicara dengan orang tuanya. Hanya doa yang selalu dipanjatkan Adoel pada setiap shalat agar orang tua dan saudara-saudara di kampoeng halamannya selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindunganNYA. Adoel belum memberitahu ke orang tuanya kalau dia sudah tidak bekerja lagi di pabrik tempe. Adoel bukan bohong kepada orang tua, tapi Adoel merasa belum saatnya memberitahu kepada orang tuanya tentang permasalahan dengan pabrik tempe. Tunggu momen yang tepat….begitu kata hati Adoel.

Ditengah kesibukan rutinitas Adoel yang masih terdampar di kampoeng orang dan belum bisa kembali ke kampoeng halaman, Adoel tetap menjaga kontak dengan pengacara untuk mengikuti perkembangan kasusnya. Persidangan kedua telah dilakukan pada bulan September 2019 dan persidangan ketiga pada akhir Oktober 2019. Dimana persidangan ketiga adalah persidangan terakhir yang menghasilkan keputusan dari Disnakertrans. Tapi pada persidangan kedua, saat mediasi terjadi, pengacara meminta Adoel untuk mempersiapkan HAK-HAK apa saja yang DITUNTUT karena belum diberikan oleh pabrik tempe selama Adoel menjadi kuli tetap. Adoel memberikan sebuah daftar tuntutan hak-haknya yang belum diberikan. Dengan dibantu pengacara, Adoel berhasil menyelesaikan tuntutan kepada pabrik tempe. Tercatat sekitar xxx juta rupiah dalam daftar tuntutan Adoel kepada pabrik tempe.  Salah satu point tuntutan Adoel adalah pesangon. Karena sejak Adoel di PHK, Adoel belum mendapat sepeser rupiah pun uang pesangon yang merupakan jelas-jelas HAK karyawan yang telah diatur oleh Undang-Undang. Bagi Adoel bukan masalah besar atau kecilnya angka, tapi menurut Adoel, penghargaan HAK karyawan dan respect terhadap Undang-Undang dari pihak pimpinan pabrik tempe itu yang lebih penting. Surat tuntutan tersebut disampaikan ke Disnakertrans melalui pengacaranya. Dalam persidangan ketiga, pihak pabrik tempe keberatan dengan tuntutan Adoel. Mereka mengeluarkan berbagai macam alasan dan cara untuk menolak tuntutan Adoel. Bahkan mereka membuat peraturan karyawan untuk pabrik tempe yang sebagai karyawan pabrik tempe saja tidak mengetahui bahwa peraturan tersebut ada. Mungkin mereka membuat peraturan internal yang hanya boleh diketahui oleh pimpinan tapi tidak untuk karyawan rendahan. Sungguh tidak adil. Yang namanya aturan karyawan harusnya dibuat terbuka dan semua karyawan wajib tahu…bukan hanya pimpinan saja yang tahu. Begitu pikiran sederhana Adoel. Intinya pihak pabrik tempe merasa keberatan terhadap tuntutan Adoel dan mereka minta negosiasi. *Dari sini mudah-mudahan kalian sudah faham, kenapa pihak pabrik tempe minta negosisasi terhadap tuntutan Adoel.

Pada 28 Oktober 2019, Adoel menerima sebuah surat yang disampaikan oleh pengacaranya. Surat tersebut adalah surat keputusan dari Disnakertrans pada persidangan ketiga. Deg-deg an rasanya membuka dan membaca surat itu. Pada halaman pertama terdapat surat pengantar Disnakertrans yang ditujukan kepada pimpinan pabrik tempe dan Adoel. Pada halaman kedua terdapat uraian tuntuan pihak pabrik tempe sebagai pelapor dan dicatat pada Disnakertrans. Adoel mulai membaca perlahan-lahan dan detail terhadap tulisan dari tuntutan pabrik tempe kepada dirinya. Ada beberapa point yang menurut Adoel adalah tuntutan yang dibuat-buat dalam rangka untuk menjatuhkan Adoel. Nah…berikut beberapa tuntutan pabrik tempe terhadap Adoel.

Bahwa Pekerja diberikan surat teguran tertulis karena tingkat persentase kehadiran sebesar 45% melalui surat Direktur SDM No. xx/xx/xx/2006 tanggal 7 Maret 2006.

Bisa dilihat disini, Adoel yang telah bekerja sebagai kuli tetap dari tahun 2001 hingga di PHK pada tahun 2019, hampir 18 tahun, data ini menurut Adoel adalah data buatan. Adoel terkenal sebagai pekerja yang rajin, taat peraturan. Kalian boleh tanya kepada mantan teman-teman Adoel di pabrik tempe yang masih bekerja disana. Adoel berani bertaruh, bahwa ini adalah rekayasa pertama dalam rangka pembunuhan karakter Adoel.

Bahwa Pekerja memperoleh beasiswa dari pemerintah dengan jangka waktu Juli 2012 – Juni 2015.

Pada point ini  sebenarnya tidak ada yang salah. Itu fakta dan benar. Tapi pihak pabrik tempe, entah menutupi data yang lainnya atau mereka tidak memiliki data history yang lengkap. Karena sesungguhnya Adoel setelah habis beasiswa tersebut, Adoel mendapat perpanjangan beasiswa dari Pemerintah. Bahkan perpanjangan beasiswa tersebut telah disetujui oleh Direktur Utama pabrik tempe (pada saat itu masih Bpk Asep, yang masih ada hubungan dekat dengan pemilik pabrik tempe).

Bahwa terdapat perbedaan tanggal antara Surat Keterangan Lulus yang menyatakan Pekerja lulus tanggal 15 Juni 2015 yang ditandatanagi oleh Bpk OW tanggal 19 Juni 2015 dengan Surat Keterangan Lulus (bukan dokumen asli) yang diterima Pekerja tanggal 11 Maret 2016. Selain itu berdasarkan Surat Keputusan Pendidikan Indonesia No. xxxx/XXXX?XXX/2017 tanggal 6 September 2017 tanggal ijasah adalah 16 Februari 2016. 

Nah…kalau point ini Adoel mau ketawa tapi takut dosa. Yang namanya sekolah setelah lulus tentunya antara tanggal sidang kelulusan, surat keterangan lulus dan ijasah pastinya berbeda….iya khan.  Lah wong masing-masing memiliki tanggal yang berbeda dibuat dan dilaksanakannya. Contoh kalau Anda sidang kelulusan hari ini, terus Anda minta surat keterangan lulus ke bagian Administrasi beberapa hari kemudian. Pihak administrasi sekolah tentunya akan melakukan pengecekan, apakah benar murid ini sudah melaksanakan sidang dan dinyatakan lulus. Kalau belum, pastinya ditolak. Tapi kalau sudah, maka pihak administrasi akan membuatkan surat keterangan lulus. Belum lagi menunggu pejabat administasi menandatanginya. Khan ga mungkin semua dilakukan dalam hari dan saat yang bersamaan. Hari ini sidang kelulusan, ijasah langsung keluar hari ini juga. Surat keterangan lulus ini diperlukan untuk mengurus keperluan lainnya, karena ijasah belum keluar. Kalau kalian pernah sekolah pasti faham donk proses administrasi ini….iya khan. Nah bagaimana dengan tuntutan point diatas…..you pikir sendiri lah….yah. Capek ngetik untuk menjelaskan orang yang ngaku sekolah di luar negeri tapi nulis tuntutan karyawannya kayak gini…..*hadeuh.

Bersambung.

NB:

Buat menyemangati Adoel…..kupersembahkan lagu ini. 😛

Baca juga cerita pengalaman si Adoel yang lain:
Balikin…oh..oh balikin…. uang SPP.
Mau sekolah ….tepi eiit….belum boleh kamu belum cukup umur.
Adoel berangkat ke tempat nguli

Tags: ,

One Response to “Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap Pabrik Tempe (Part #2)”

  1. Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap di Pabrik Tempe (Part #1) | Abdusy Syarif Says:

    […] Bersambung…(Part #2) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: