Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap Pabrik Tempe (Part #1)

Ini adalah cerita khayalan belaka. Jika ada kemiripan nama, tempat, tanggal dan kejadian, itu adalah hanya kebetulan saja. 🙂

Gambar ilustrasi karyawan pabrik tempe. 

Adoel adalah seorang anak desa yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja. Dengan hanya berijasah madrasah (Sekolah Dasar), Adoel hanya dapat bekerja sebagai seorang kuli di sebuah pabrik tempe sejak tahun 2001 hingga 2019, di sebuah desa terpencil, sebut saja desa Oedique. Adoel bekerja di pabrik tempe pada bagian produksi. Sejak lulus SD, Adoel punya cita-cita untuk melanjutkan sekolahnya suatu hari nanti. Tapi mimpi Adoel untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat lanjut tidak semudah dan seberuntung teman-temannya. Sebagian besar teman Adoel lanjut melanjutkan sekolahnya hingga universitas. Karena mungkin orang tua mereka mampu. Beruntunglah bagi yang memiliki orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Siapa yang tidak kepingin melihat anaknya sekolah tinggi dan sukses. Bisa bekerja di kota besar atau di perusahaan yang bonafit. Tapi Adoel? Adoel memutuskan untuk bekerja demi membantu orang tua dan keluarganya. Mulai dari berdagang membantu orang tuanya, hingga warung orang tuanya tutup karena kalah saing dengan berjamurnya supermarket dan pasar modern serta mall-mall. Akhirnya Adoel terdampar di pabrik tempe ini. Untuk mewujudkan mimpi sekolahnya, Adoel harus menyisihkan sedikit dari gajinya yang sedikit alias kecil.
Setelah 2 tahun bekerja di pabrik tempe, dan Adoel merasa cukup memiliki tabungan untuk melanjutkan sekolahnya, dia pun membulatkan tekat dan ‘nekat’ untuk ikut ujian saringan masuk ke SMP terbuka. Setelah Adoel menjalankan tes dan wawancara, dia dinyatakan lulus dan bisa memulai sekolahnya pada tahun ajaran 2003/2004. Senang bukan main hati Adoel ketika dinyatakan lulus. Adoel menyampaikan kabar gembira ini ke orang tuanya. Mereka ikut bahagia dan memberi restu langkah Adoel tersebut.  Keesokan harinya, Adoel menyampaikan berita gembira ini kepada pimpinan perusahaannya. Dengan harapan  pimpinan perusahaan juga memberi restu atau memberikan ijin Adoel untuk melanjutkan studinya, tetapi tetap menjalankan tugasnya sebagai kuli tetap di pabrik tempe. Tapi apa yang didapat Adoel ternyata tidak sejalan dengan harapanya. Pimpinan belum memberi izin Adoel untuk sekolah lagi. Alasannya apa? Kenapa Adoel belum boleh melanjutkan studi? Nah…silahkan baca disini. (Baca : Adoel pingin sekolah).

Nah, sudah tau, kenapa Adoel tidak mendapat ijin dari pimpinannya untuk studi lanjut? Sekarang bagaimana jika Anda ada diposisi Adoel, apa yang Anda akan lakukan?

Yang Adoel lakukan adalah maju terus. Bagi Adoel yang penting sudah mendapat restu orang tua dan keluarga. Pimpinan pabrik tempe mungkin belum bisa memahami dan mengerti bahwa kuli atau karyawan juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan dan perlu berkembang. Akhirnya, Adoel memutuskan untuk tetap melanjutkan studinya di SMP negeri terbuka ini, sambil tetap bekerja sebagai kuli tetap pabrik tempe.  Berkat kegigihan, keuleten, dan kesabaran yang Adoel miliki, Adoel menjalankan studi lanjutnya dengan tepat waktu. Bagi Adoel, waktu sangat berharga. Dia harus mampu mengatur waktu untuk bekerja di pabrik tempe dan studinya. Kadang hingga larut malam baru tidur karena harus mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan besok paginya sudah harus bangun pagi dan berangkat ke pabrik tempe.  Sering kali Adoel juga mengambil kerja lembur di pabrik tempe, seperti kerja pada hari Sabtu dan minggu demi untuk mendapat sedikit uang tambahan yang buat dia tabung guna membayar biaya studi Adoel. Yah begitu, karena Adoel studi denganbiaya sendiri. Sejak Pimpiannya tidak memberi ijin, berarti tidak ada dana bantuan studi dari perusahaan untuk mendukung studi Adoel. Tapi walaupun begitu, rejeki sudah Tuhan atur. Adoel percaya bisa membayar studinya dari uang kerja lemburnya. Adoel sanggup menunda kesenangan dan hidup dengan secukupnya. Makan-minum secukupnya. Bekerja 7 hari, Senin-Minggu. Acara keluarga sering tidak hadir, karena biasanya acara keluarga diadakan pada hari Sabtu-Minggu, tapi Adoel memilih untuk kerja lembur. Demi komitmen yang Adoel sudah ambil. Alhamdulillah, waktu berjalan, Adoel pun dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Justru Adoel mendapat juara ke-2 di kelasnya sebagai siswa berprestasi. Puji syukur….

Selepas selesai tingkat SMP, semangat Adoel terus menyala untuk melanjutkan ke tingkat yg lebih tinggi, yaitu SMA. Tapi untuk biaya bagaimana? Adoel mendapat informasi dari Gurunya, bahwa ada peluang beasiswa. Kenapa ga dicoba. Sejak saat itu Adoel menjadi ‘Pemburu beasiswa’, tujuannya untuk bisa melanjutkan studinay ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Begitulah mimpi ‘kecil’ Adoel. Nah, bagaimana cerita Adoel bisa mendapatkan beasiswa. Silahkan baca disini. (Baca: Meraih beasiswa).

Walaupun sempat mendapatkan ‘obstacle’ dari hampir semua pimpinan perusahaan pabrik tempe, Adoel tetap nekad untuk melanjutkan studinya, walau dengan catatan harus mengembalikan uang yang telah dikeluarkan oleh pabrik tempe selama Adoel studi di SMA Seragam Koening yang terkenal itu (Catatan: Saat itu Adoel telah terdaftar si SMA Koening atas beasiswa Perusahaan pabrik tempe). Dan terhitung mulai Juli 2012 hingga Juni 2015 (selama 36 bulan), atas usahanya dan keinginannya untuk menempuh pendidikan ke tingkat lebih tinggi, Adoel menjalankan studi lanjut kejar paket C di luar kota, yang jauh dari desa kelahirannya dan pabrik tempenya, atas beasiswa suku dinas desa (pemerintah desa setempat). Sehingga status Adoel di pabrik tempe adalah “Tugas Belajar”. Kalau boleh jujur, sebenarnya dengan beasiswa yang diberikan oleh suku dinas pendidikan kepada Adoel, beasiswa itu sangat kecil untuk biaya hidup di luar kota (Baca: Wawancara tentang biaya hidup & studi). Setelah 36 bulan berjalan, beasiswapun sudah selesai, tapi masa studi Adoel yang masih berlanjut, karena Adoel masih harus menyelesaikan perbaikan laporan ujiannya. Berikutnya Adoel mengajukan permohonan perpanjangan beasiswa. Dan terhitung Juli 2015 hingga Desember 2015, Adoel berhak untuk mendapatkan perpanjangan beasiswa berdasarkan surat rekomendasi dari Guru Oemar Bakrie, dan surat rekomendasi Direktur Utama pabrik tempe, dan juga dari kepala suku dinas wilayah XIII, desa tempat Adoel tinggal.

Gambar ilustrasi ujian.

Bersamaan dengan masa perpanjangan beasiswa yang hanya 6 bulan itu (Juli – Desember 2015) dan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Adoel bekerja sebagai kuli bangunan (sementara). Pada 30 Maret 2016,  Adoel mengajukan permohonan perpanjangan cuti ke pabrik tempe. Namun pimpinan Pabrik tempe sepertinya kurang percaya, dan mereka meminta Adoel untuk memberikan penjelasan tertulis mengenai perpanjangan cutinya. Maka Adoel membuat surat penjelasan tertulis pada tanggal 17 Juni 2016 terkait perpanjangan cuti yang diajukannya. Namun tidak ada balasan atau surat apapun dari pimpinan Pabrik Tempe tentang permohonan perpanjangan cuti Adoel tersebut.

Pada 2017, Adoel kembali ke desa Oedique dan telah menyelesaikan administrasi lapor diri terkait beasiswa yang diberikan kepada suku dinas (pemerintah desa) setempat dan Adoel juga telah melakukan penyetaraan ijasah kejar paket C. Pada tahun 2017, Adoel memiliki kesempatan untuk menghadap ke pimpinan perusahaan pabrik tempe, mulai dari Direktur Utama, Wakil Direktur Utama, dan Kepala SDM untuk mendiskusikan permohonan aktif kembali sebagai Kuli Tetap di pabrik tempe, namun Adoel memohon perubahan status karyawan nya, yang tadinya Kuli Tetap A, menjadi Kuli Tetap C, dengan tujuan agar bisa bekerja administrasi dengan online di pabrik tempe tersebut. Karena Adoel berharap bisa memulai aktif kembali di pabrik tempe, namun sambil menjalankan pendidkan kejar paket D di luar kota. Kepala biro SDM memberikan surat keterangan aktif kembali pada tanggal 07 Agustus 2017). Adoel kembali ke pergi ke luar kota tempat menempuh studi untuk memulai kejar paket D pada Desember 2017. Kejar paket D ini merupakan sebuah proyek kolaborasi antara 3 pabrik, yaitu pabrik tempe, pabrik tahu dan pabrik oncom. Sebuah kerjasama MoU antara pabrik tempe dan pabrik oncom telah ditanda tangani pada bulan Desember 2017 sebagai bukti kolaborasi. Dan laporan progres juga telah Adoel kirim kepada Pimpinan pabrik tempe pada September 2018.

Semester ganjil 2017/2018, Adoel telah mulai aktif kembali menjalankan tugas Tri Kedele sebagai kuli tetap. Adoel juga telah dihubungi oleh Kepala Produksi tempe dan sekretaris departemen produksi. Mereka memohon bantuan Adoel untuk memberikan akses ke kelas tata boga pembuatan roti Croissant, karena Adoel adalah salah satu Instruktur tata boga di bagian produksi. Dengan demikian bagian produksi dapat menjalankan kelas tata boga roti Croissant. Dan Adoel menyanggupi untuk memberikan bantuan kepada bagian produksi untuk membuka akses kelas croissant. Adoel juga telah ditandem untuk mengajar kelas e-learning tata boga croissant di bagian produksi untuk kelas regular dan Internasional. Namun mulai semester genap 2017/2018, Adoel tidak lagi diperbolehkan mengajar kelas e-learning tata boga lagi. Kemudian Adoel mencari informasi dengan menghubungi Sekretaris bagian produksi  (yang kebetulan beliau adalah teman baik Adoel). Menurut informasi dari Sekretaris bagian produksi, proses penjadwalan untuk kelas tata boga semester genap 2017/2018, nama Adoel tidak disetujui oleh Sekretaris Departemen, tanpa alasan yang jelas. Tanpa surat pemberitahuan. Tanpa informasi, baik lisan maupun tulisan.

Hal yang sama juga terjadi pada saat proses pengajuan proposal Inter-nasi-uduk. Adoel telah dihubungi oleh Kepala Departemen untuk peluang kerjasama tersebut. Adoel juga berkomunikasi dengan penanggung jawabnya terkait prosedur administrasi. Proposal kerjasama inter-nasi-uduk antara 3 pabrik, yaitu pabrik tempe, tahu dan oncom, telah dibuat dan disampaikan ke penanggung jawab program. Namun pada akhirnya, proposal Adoel tidak dapat diproses, dengan alasan Adoel harus menyelesaikan terlebih dahulu permasalahan dengan bagian SDM. Permasalahan apa, Adoel juga masih belum mengerti saat itu. Dan hampir semua urusan administrasi, baik proposal kelas tata boga dan insentif tulisan ceker ayamnya juga tidak disetujui, wlaupun tulisannya itu sudah diterima dan dipublikasikan.

Begitu juga halnya dengan hak bonus tahunan karyawan di pabrik tempe. Sejak 2017, Adoel tidak lagi menerima hak bonus tahunan karyawan. Tidak ada penjelasan tertulis mengenai mengapa Adoel tidak menerima hak bonus tahunan karyawan. Sedangkan disatu sisi, semua hasil karya dan prestasi inter-nasi-uduk dan penghargaan-penghargaan yang Adoel raih selama studi di luar kota, diakui dan digunakan oleh bagan produksi, Departemen, dan perusahaan tempe untuk mendongkrak nilai jual. Hingga akreditasi bagian Produksi  dan Pabrik tempe mendapatkan nilai “A”. Namun dari penilaian kinerja oleh pihak SDM pabrik tempe, Adoel dihitung NOL alias ZERO. Dan kemudian kinerja NOL ini digunakan untuk dasar pertimbangan untuk menghilangan Hak Bonus tahunan Karyawan Adoel selama 2 tahun terakhir ini, 2017 dan 2018.

Pada tanggal 18 Desember 2018,  Adoel berdiskusi dengan Kepala Departemen yang baru dilantik, dan Adoel mengutarakan hal-hal yang menjadi kendala selama ini dan Adoel juga menyampaikan beberapa permohonan. Notulen hasil rapat tersebut telah disampaikan kepada Pimpinan perusahaan pabrik tempe. Pada tanggal 20 Desember 2018, telah berlangsung diskusi antara Adoel dan Direktur Utama pabrik tempa yang baru (Konon dapat kabar burung beliau kalah dalam pemilihan, tapi karena Komisaris Perusahaan tempe lah yang mengangkat beliau). Sempat dihadiri juga oleh Kepala divisi tata boga dan mantan direktur SDM pabrik tempe yang sekarang menjabat jadi apa yah….lupa. Kami membahas peluang kerjasama Inter-nasi-uduk guna mencukupi target akreditasi perusahaan tahun 2020 yang akan datang. Tidak ada pembicaraan khusus mengenai permasalahan antara Adoel dan pabrik tempe. Adoel hanya menyampaikan kepada Direktur Utama bahwa Adoel masih melaksanakan kejar paket D. Pada tanggal 26 Desember 2018 telah dilaksanakan rapat antara Adoel dengan Direktur SDM yang baru juga dilantik, dengan didampingi Kabiro SDM  dan Staf-nya yang ‘hebat’. Rapat tersebut direkam dalam format audio oleh pihak SDM. Adoel tidak menerima notulen rapat dari hasil pertemuan tersebut. Namun menurut pihak SDM, kejar paket D Adoel saat ini tidak diakui, karena tidak ada surat resmi dari pimpinan pabrik tempe.

Pada tanggal 2 Januari 2019, Adoel menerima surat pemanggilan aktif kembali ke pabrik tempe dari Direktur SDM. Setelah membaca surat tersebut, sedangkan pihak perusahaan mengetahui bahwa Adoel sedang menjalankan program kejar paket D dan projek inter-nasi-uduk dan MoU yang tidak diakui oleh pihak pabrik, ditambah melihat permasalahan yang dihadapi beberapa tahun belakangan, maka Adoel memutuskan untuk mengajukan permohonan pengunduran diri. Surat permohonan pengunduran diri.

Surat permohonan pengunduran diri telah disampaikan pada 31 Januari 2019. Pimpinan pabrik tempe tidak menyetujui permohonan diri Adoel dengan memberikan surat jawaban penolakan permohonan pengunduran diri Adoel pada tanggal 11 Februari 2019. (Aneh ga yah…? Masa’ mengundurkan diri ga boleh…apa kuli tetap ga punya HAK mengundurkan diri? )

Adoel menerima surat Peringatan Tertulis I dari Kepala Departemen terkait absensi atau ketidakhadiran Adoel di pabrik tempe tertanggal 13 Februari 2019. Adoel lalu menerima Surat Pemanggilan aktif kembali, oleh Direktur Sumber Daya Manual bukan Sumber Daya Manusia (SDM) :), tertanggal 21 Februari 2019.  Adoel menerima Surat Peringatan Tertulis II, ditanda tangani oleh Wakil Direktur Utama pabrik tempe tertanggal 26 Februari 2019. Pada 26 Maret 2019, Adoel menerima Surat Undangan untuk membahas Ketidakhadiran dan sehubungan Surat Peringatan Tertulis II. Adoel diminta untuk hadir pada Senin, 8 April 2019, jam 10.00 – 12.00 di pabrik tempe. Hingga Adoel menerima panggilan Surat Undangan ketiga.

Dan pada tanggal 13 Juni 2019, Adoel menerima surat pemberhentian atau PHK sebagai Kuli Tetap di Perusahaan Pabrik Tempe terhitung mulai tanggal 30 mei 2019. Tapi sejak bulan mei 2019, Adoel sudah tidak menerima gaji dan THR, yang (mungkin) masih menjadi hak-nya. Adoel juga tidak menerima pesangon untuk pemutusan hubungan kerja dengan perusahaan pabrik tempe ini.  Adoel juga tidak menanyakan atau menuntut HAK-HAK nya. Karena Adoel berharap PHK ini berakhir dengan baik-baik saja dan saling menghormati sesama. Adoel menerima dengan baik surat PHK tersebut. *Yah, baiklah kalau begitu….

Dikarenakan Adoel sudah di PHK oleh perusahaan, berarti sudah tidak ada hubungan professional antara antara Adoel dan perusahaan. Namun melihat bahwa nama Adoel masih digunakan oleh pihak perusahaan untuk kepentingan MARKETING dan/atau AKREDITASI, hal ini membuat Adoel merasa dirugikan. Khan Adoel sudah di PHK, tetapi data pribadi atau nama Adoel MASIH DIGUNAKAN atau DIAKUI sebagai Kuli Tetap. Hal ini tentunya TIDAK ADIL menurut Adoel.

Pada 15 Juni 2019, Adoel mengirim email kepada bagian Humas perusahaan pabrik tempe dan unit lain nya untuk memohon kepada pihak yang terkait atau admin untuk menghapus data Adoel dari halaman situs web dibawah domain pabriktempe.com. Tidak ada respon dari pihak terkait mengenai permohonan penghapusan dan penggunaan data Adoel pada situs dibawah domain pabriktempe.com. Hingga pada tanggal 10 Juli 2019, pihak Humas perusahaan memberikan jawaban perihal penghapusan data Adoel. Pihak Humas memberikan saran untuk melapor ke bagian SDM. *Hadeuh…kayak bola ping-pong. Lempar sana, lempar sini. Capeek deeh...

Pada 11 Juli 2019, Adoel mengirim email dan menegaskan bahwa Adoel BUKAN lagi sebagai KARYAWAN di perusahaan pabrik tempe terhitung sejak 30 Mei 2019. Dan Adoel juga mengingatkan terhadap penyalahgunaan data sesuai Pasal 26 ayat (1) UU No.11 Tahun 2008 yang telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang menegaskan bahwa penggunaan data pribadi seseorang harus seizin dan melalui persetujuan dari orang yang datanya akan digunakan. Maka Adoel membuat pernyataan bahwa dia tidak bertanggung jawab atas informasi/data yang terkait dengan data pribadi Adoel yang tercantum pada beberapa halaman situs internet dibawah domain pabriktempe.com ataupun untuk keperluan lainnya yang terkait dengannya.

Pihak perusahaan pabrik tempe melaporkan permohonan Pencatatan Perselisihan Hubungan Industrial dengan surat Perusahaan tertanggal 15 Juli 2019. ke Disnakertrans. Pada tanggal 25 Juli 2019, Adoel menerima surat panggilan klarifikasi dari Disnakertrans.

Bersambung…(Part #2)

Bon courage Adoel….Ganbate…Good luck.

NB:
Sebuah video music cover – Bohemian Rhapsody (Queen) untuk menyemangati kamoe…iyah kamoe, Adoel… 😀

Baca juga cerita pengalaman si Adoel yang lain:
Balikin uang SPP sekolahnya.
Mau sekolah tapi belum boleh…
Adoel ke tempat nguli

Tags: ,

One Response to “Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap Pabrik Tempe (Part #1)”

  1. Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap di Pabrik Tempe (Part #2) | Abdusy Syarif Says:

    […] Bagi yang belum baca cerita bagian pertama Adoel, silahkan menuju ke TKP dengan klik disini. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: