Rutinitas Adul ke tempat nguli

Sejak Adul lulus sekolah pada tahun 2015 di sebuah kota yang cantik namun nun jauh, sekitar 12.000 Km, dari tempat kelahirannya, Adul pun mendapat kesempatan untuk jadi kuli di sekolah tempat dia belajar dan menyelesaikan studinya. Rasa rindu kampung halaman, orang tua, keluarga, sahabat dan teman-teman terpaksa harus dipendam dalam-dalam.

Setiap pagi Adul harus bersepeda dari gubugnya menuju ke stasiun kereta untuk ‘nguli’. Menembus cuaca yang terkadang ekstrim dingin (pada musim dingin) hingga air mata keluar atau tangan dan daun telinga yg sakit karena terkena hembusan udara dingin. Tapi sebaliknya, ketika musim panas serasa seperti didalam ‘oven’ atau ‘microwave’. Seringkali harus berdiri didalam kereta karena gerbong penuh dengan para ‘robot-robot’ pekerja dan juga pelajar. Kebanyakan para ‘robot pekerja’ itu tenggelam dalam dunianya masing-masing. Ada yang asyik dengan gadget-nya sendiri, mendengarkan musik dengan headset ditelinganya, bermain games dengan laptopnya, tapi masih ada juga yang membaca buku, novel percintaan atau roman. Sedikit yang berdiskusi ataupun berinteraksi sesama manusia. Ada kalanya penumpang disuruh turun atau menunggu kereta dikarenakan ada tas atau kantong plastik tak bertuan didalam gerbong kereta api. Demi keamanan bersama, maka penumpang harus turun dan menunggu hingga kondisi dinyatakan aman. Didalam kereta, mungkin hanya Adul yang menjadi ‘alien’ diantara wajah-wajah eropa yang rata-rata berambut bule (blonde) dengan bola mata berwarna (biru, coklat, abu-abu), alis mata yang tebal, kulit putih, hidung mancung seperti terompet.

Sesampainya di kota tujuan, Adul pun turun dari gerbong kereta dan dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi tempat nguli. Melewati perumahan susun (bahasa kerennya apartemen), pertokoan, super market, cafe, restauran bersama-sama dengan para pelajar/mahasiswa dan para ‘kuli’ dari tempat lain. Di lokasi kerja, tidak lupa Adul mampir ke lokasi rekan-rekan kerjanya, just to say ”Bonjour. Comment ça va?” (- artinya: Selamat pagi. Apa kabar? -). Tidak ada mesin absen atau ‘finger print’ seperti karyawan di pabrik yang harus absen, semua atas kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi. Patuh dan menghormati (respect) hak dan kewajiban yang telah ditetapkan dan disepakati.

Seperti biasa, Adul mengeluarkan ‘peralatan nguli’ dan mulai bekerja. Tidak ada ‘acara ngerumpi’ atau ‘ngegosip’ sebelum bekerja, kecuali fokus pada kerjaan & job-des masing-masing. Jam 10 dan jam 15.30 adalah waktunya coffee-break dan pada saat itulah kita dapat berinteraksi atau bercanda tawa sesama kolega. Hal ini sudah menjadi kultur dan dipraktekan baik di tempat kerja maupun di sekolah. Istirahat makan siang adalah waktu yang sakral bagi orang sini. Jam 12.00 hingga 14.00, waktu yang cukup untuk makan yang baik dan beristirahat sejenak melepas lelah dan penat selama ‘nguli’ sejak pagi.

Begitulah keadaan dan kondisi keseharian Adul menjadi ‘kuli proyek’ untuk beberapa tahun ini di kampung orang asing seperti lagunya Sting, “Oh, I’m an alien. I’m a legal alien.


Tags: , , , , ,

One Response to “Rutinitas Adul ke tempat nguli”

  1. Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap di Pabrik Tempe | Abdusy Syarif Says:

    […] Baca juga cerita Adoel yang lain: Balikin uang SPP sekolahnya. Mau sekolah tapi belum boleh… Adoel ke tempat nguli […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: