Keuletan, Kesabaran & Pengorbanan untuk Meraih Beasiswa Luar Negeri

Mungkin cerita ini agak sedikit membosankan, karena ini cerita adalah cerita “khayalan” tentang perjalanan seorang anak desa mendapatkan beasiswa untuk dapat sekolah lanjut di luar negeri. Dan untuk menggapai itu menjadi nyata sangatlah tidak mudah. Penuh ujian, hambatan, tantangan, serta pengorbanan yang luar biasa. Sengaja cerita ini ditulis hanya untuk mengingatkan bahwa diperlukan keuletan, kesabaran dan pengorbanan untuk meraih cita-cita dan mimpi besar. Cerita ini juga telah diedit dengan maksud agar tidak ada pihak yang dirugikan. Cukup Allah yang maha mengetahui segala sesuatunya.

Berawal dari impian kecil saya ketika duduk di bangku SMA. Saya ingin sekali dapat melanjutkan studi di luar negeri. Saya sering berkhayal dapat merasakan kehidupan baru, lingkungan baru, kultur baru, teman baru dari segala penjuru dunia apabila saya dapat menggapai mimpi itu. Namun dalam perjalanannya impian itu malah pernah nyaris hilang. Mungkin impian itu hanya impian anak kecil, seperti isapan jempol saja, yang spontanitas muncul dan hilang begitu saja. Seperti anak TK atau SD yang sering ditanya, “nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”

Tidak terasa waktu telah berjalan cukup lama, hingga mimpi itu hampir benar-benar hilang. Setelah lulus Sarjana Dasar (S1) saya malah berangan-angan ingin menjadi orang biasa saja seperti pada umumnya. Bekerja, menikah, berkeluarga, mengejar karir dan seterusnya. Saya lulus S1 dari sebuah kampus swasta di desa pinggiran kota Jakarta Barat yang mungkin tidak begitu akrab di telinga orang-orang pada saat itu. Maklum, dengan perekonomian orang tua saya yang pas-pas-an dan akibat tidak dapat masuk ke universitas negeri yang bergengsi dan favorit. Dengan status jurusan pada saat itu masih terdaftar, saya harus menempuh ujian negara agar dapat dinyatakan lulus. Setelah lulus, saya nguli sebagai asisten programmer yang dikontrak selama 1 tahun dengan gaji yang kadang dirapel beberapa bulan sekali. Selang beberapa tahun kemudian saya mendapat tawaran sebagai guru (bahasa kerennya “dosen”). Mengingat saya adalah lulusan nomor “wahid” alias No. 1 dari jurusan itu, maka saya mendapat kesempatan emas. Dan jadilah saya seorang tenaga atau staf pengajar sejak saat itu. Baru menjadi guru selama 2 tahun, saya merasa ilmu saya belum dalam. Akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan ke jenjang lebih lanjut, master kungfu :). Dengan biaya sendiri, karena Pimpinan saat itu tidak memberikan ijin & restunya, saya nekad menyisihkan sedikit rejeki dan mengencangkan ikat pinggang dan dapur keluarga kami demi unntuk membayar biaya sekolah yg cukup tinggi saat itu. Kali ini studi master Tsanawiyah saya di sebuah kampus negeri di bilangan pinggiran Jakarta (sebelum kota Bogor) yang sudah pasti sangat terkenal di seluruh penjuru Indonesia. Walaupun untuk melanjutkan studi master ini dengan biaya sendiri yang cukup mahal pada saat itu, semangat saya tetap tinggi. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang baik memang diperlukan pengorbanan. Pimpinan dari tempat saya bekerja belum mengijinkan saya untuk mendapatkan beasiswa, hal ini dikarenakan masa kerja saya yang masih sangat sedikit, baru 2 tahun. Puji syukur, Alhamdulillah….Tuhan memberi rezeki sehingga saya masih diberi kemampuan untuk membayar biaya studi master sendiri. Setelah menyelesaikan master kungfu dengan predikat cum laude, impian studi ke luar negeri itu muncul kembali. Niat untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya yang lebih tinggi mulai muncul sejak tahun 2007. Dikarenakan tidak adanya dukungan finansial untuk studi master bin master alias Aliyah, maka saya mulai menjadi ‘Pemburu beasiswa’. Dimulai dari mencari informasi kepada teman-teman yang sudah pernah mendapat beasiswa. Sampai mencari referensi dari teman-teman dan mantan pembimbing saya yang baik hati. Internet-pun menjadi salah satu alat untuk mencari lowongan sekolah dengan beasiswa.

Pada tahun 2007, saya dikenalkan dengan seorang Guru Besar dari negeri Mercedez yang kebetulan sedang berada di Jakarta, Indonesia dalam rangka kerjasama internasional antar kampus di Jerman dan Indonesia. Dengan berbekal semangat dan mental bulat alias nekat, saya siapkan CV dan resume saya untuk diberikan kepada beliau. Singkat cerita sayapun mendapat surat rekomendasi dari beliau untuk mengajukan beasiswa studi ke Jerman melalui DAAD. Ketika itu sepertinya mimpi hampir menjadi kenyataan. Betapa senangnya saya ketika mendapat surat rekomendasi tersebut. Maka dengan segera saya menyiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk mengajukan beasiswa DAAD studi ke tingkat Aliyah di Jerman. Namun malang, rupanya nasib baik belum berpihak kepada saya. Ajuan saya belum disetujui alias ditolak. Ingin menangis rasanya saat itu. Ini adalah pengalaman pertama saya yang sangat berharga. Hikmah dari pengalaman itu adalah diperlukan persiapan yang cukup baik untuk bisa mendapatkan beasiswa DAAD. Dan pada saat itu saya memang belum melakukan persiapan yang baik, maka hasilnya masih sangat jauh.

Tahun 2009 saya coba mendaftarkan diri mengikuti kursus pelatihan bahasa Inggris yg diadakan oleh Dikti selama 4 bulan di sebuah universitas negeri di kota Malang, Jawa Timur. Ini adalah dalam rangka mempersiapkan diri untuk persiapan studi di luar negeri. Ini adalah ujian lain dan pertama kali bagi saya, jauh dari keluarga dalam jangka waktu yang lumayan lama. Saat pelatihan itulah, saya sadar sekali dan merasakan bahwa untuk meraih beasiswa dan studi ke luar negeri tidaklah mudah. Walaupun saat itu (katanya) pemerintah memiliki dana yang banyak untuk beasiswa. Namun peminatnya sedikit. Maksudnya adalah, sejak tahun 2009, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yg minim kesediaan dana beasiswa dari pemerintah. Kalau dahulu, dosen yang berburu mencari beasiswa, seperti apa yang telah saya lakukan selama ini. Namun, sejak tahun 2009 keadaan berubah, pemerintah dengan program beasiswa justru mencari dosen yang siap untuk studi ke luar negeri. Bagi saya, inilah mungkin ‘ijabah’ dari do’a dan usaha saya. Hanya saja saya harus lebih mempersiapkan diri untuk mendapatkan ‘amanat’ beasiswa itu.

Pada akhir tahun 2010, saya dan beberapa teman sejawat dari kampus yang sama mencoba melamar untuk mendapatkan beasiswa luar negeri pada gelombang 4. Mungkin dikarenakan kami memasukan dokumen pada hari terakhir pendaftaran, malang sekali nasib kami, pada saat pengumuman hasil penerimaan beasiswa, nama kami tidak berada pada daftar pelamar beasiswa, walaupun dokumen lamaran beasiswa kami sudah diterima oleh pihak pengelola beasiswa. Akhirnya kami kembali mengajukan aplikasi beasiswa luar negeri pada gelombang 5. Kali ini kami mengajukan diawal periode. Berbekal pengalaman sebelumnya dengan harapan nama-nama kami masuk ke dalam daftar pelamar beasiswa luar negeri. Setelah beberapa bulan proses administrasi, pengumuman dikeluarkan pada awal tahun 2011, dan nama sayapun masuk dalam daftar pelamar beasiswa pada lampiran 2, yaitu peserta yang lulus namun bersyarat.  Ada 2 syarat yang harus saya penuhi, nilai IELTS & Letter of Acceptance (LoA) yang terbaru dari sebuah universitas ternama di Australia. Perjuangan belum selesai, saya harus mengambil ujian IELTS. Sayapun belajar sendiri dengan berbekal Internet dan buku-buku untuk mengejar persyaratan bahasa Inggris yang mensyaratkan nilai IELTS min 6.0. Seandainya saja saya memiliki cukup finansial, mungkin saya akan mengambil kursus persiapan IELTS. Setelah beberapa bulan belajar otodidak, kembali saya mendaftar untuk ujian test IELTS pada bulan Mei 2011. Ternyata hasilnya masih kurang dari 6.0. Kemudian pada bulan September 2011 saya kembali mengambil test IELTS lagi untuk yang kedua kalinya. Ternyata nilai IELTS saya belum beranjak juga dan masih kurang dari 6.0. Sayapun nyaris putus asa. Dan untuk yang ketiga kalinya saya mengambil test IELTS pada bulan Januari 2012. Alhamdulillah, kali ini nilai IELTS saya mencapai 6.0. Artinya setelah ujian IELTS yang ketiga kalinya, saya baru mencapai nilai yg diminta. Maka dengan segera saya melaporkan diri saya untuk kembali memproses beasiswa saya yang tertunda selama hampir 1 tahun. Lalu masalah lain muncul, yaitu LoA. Kampus tempat tujuan studi saya di Australia belum bisa mengeluarkan LoA. Mereka hanya bisa menyediakan LoO (Letter of Offer). Pikir saya, berapa lama lagi saya harus proses dan menunggu. Sudah banyak waktu dan pengorbanan yang telah saya lakukan. Ditengah-tengah kegalauan, muncul “ide gila”, yaitu banting setir, cari LoA ke universtas di Perancis. Kebetulan saya memiliki teman yang sedang studi di Perancis. Saya kontak dia melalui email. Dan saya kirim email juga ke Profesor-nya sambil menjelaskan bahwa saya adalah calon penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia dan sedang mencari kampus untuk mengerjakan riset saya. Profesor dari Perancis-pun menyambut dengan baik dan cepat responnya. Dalam hitungan beberapa hari, setelah saya berikan semua dokumen pendukung, LoA pun sudah ada ditangan saya. Saya akan studi ke Perancis….teriak dalam hati saya. Good bye Australia, Welcome Perancis. Hikmah dari pengalaman ini, Tuhan memberikan Pertolongan NYA diujung segala ujian yang berat ini.

Lalu setelah melengkapi persyaratan nilai IELTS terbaru dan LoA terbaru dari Perancis itu, maka saya sudah masuk ke dalam daftar penerima beasiswa pada lampiran 1 (yang siap diberangkatkan). Segera saya urus dokumen persiapan keberangkatan, seperti passport, visa, surat ijin keberangakatan dari Sekneg, kontrak beasiswa, surat jaminan dan lain-lain. Ini memakan waktu sekitar 4-5 bulan. Dan mulai 5 Juni 2012, saya telah berada di Prancis untuk melanjutkan studi Aliyah saya.

Tags: , ,

6 Responses to “Keuletan, Kesabaran & Pengorbanan untuk Meraih Beasiswa Luar Negeri”

  1. meel Says:

    congratz bang…
    impian yang menajdi kenyataan. sungguh menginspirasi saya untuk ingin meraih beasiswa s2 di luar negeri juga..

    Like

  2. sipenguin Says:

    Tulisan yang sungguh meneguhkan hati saya yang sedang menempuh s2 dengan biaya sendiri. Terima kasih

    Like

  3. butri 72 Says:

    proud to you my friend .. hoppely all your dream will come true .

    Like

  4. abdusy syarif Says:

    Amiin…thanks all.

    Like

  5. DREAMS BOOK YANG TERTUNDA | Abdusy Syarif Says:

    […] Lalu, bagaimana saya bisa ‘nyasar’ ke Perancis? Bukan ke Jerman. Nah, bagaimana cerita selanjutnya….mari kita saksikan di TKP….*OVJ style’s Tapi sebelumnya Anda boleh singgah dan membaca coretan saya yang berjudul “Keuletan, Kesabaran, Pengorbanan Meraih Beasiswa Luar Negeri”. […]

    Like

  6. Catatan Seorang Mantan Kuli Tetap di Pabrik Tempe | Abdusy Syarif Says:

    […] Adoel adalah seorang anak desa yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja. Dengan hanya berijasah madrasah, Adoel dapat bekerja sebagai kuli tempe. Adoel, sejak tahun 2001 hingga 2019, adalah Kuli Tetap di sebuah perusahaan Pabrik Tempe, di desa Oedique. Adoel adalah salah satu Kuli Tetap pada bagian produksi. Keinginan Adoel untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat lanjut tidak semudah dan seberuntung teman-teman yang lainnya. Adoel perlu menyisihkan sedikit dari gajinya yang tidak seberapa untuk bisa melanjutkan studinya. Pernah waktu baru masuk kerja di perusahaan pabrik tempe, Adoel pingin sekolah lagi, tapi belum boleh dan tidak dapat izin dari pimpinan departemennya. (Baca : Adoel pingin sekolah) Namun berkat kegigihan, keuleten, dan kesabaran yang Adoel miliki, Adoel tetap bisa sekolah, walau dengan biaya sendiri. Begitu juga ketika ingin lanjut ke jenjang berikutnya. Adoel berburu beasiswa selama hampir 5 tahun. (Baca: Meraih beasiswa). […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: