1 Bulan Pertama di Colmar, Alsace, Prancis

Sudah hampir 1 bulan saya berada di kota Colmar, Alsace, Prancis, tapi ngomong bahasa Prancis masih pake bahasa isyarat, kayak orang cacat aja…hehehe. Tapi untung ada Google translate. Hmmm…..sambil menunggu waktu, saya mau berbagi cerita tentang apa yang saya lihat dan saya rasakan selama beberapa minggu ini.

Tempat Tinggal

Kebetulan saya tinggal di pemukiman yang cukup sepi, tidak begitu jauh dari pusat kota. Mungkin sekitar 2-2.5 KM jarak dari apartemen saya ke pusat kota (Centre Ville) Colmar. Dan yang paling menyenangkan adalah sekitar 500 KM dari apartemen saya terdapat Masjid, namanya Masjid (Mosquée) El Amel. Dan satu lagi Masjid berada agak jauh, jadi di Colmar hanya ada 2 Masjid. Mungkin oleh Pemerintah setempat sudah diatur tata kotanya sedemikian rupa, sehingga di pemukiman itu sudah disediakan sekolah TK, SD hingga SMA. Supermarket, kantor pos, pom bensin, pos polisi, rumah sakit, taman bermain, stasiun kereta semua dapat dijangkau dengan berjalan kaki (kalau mau & kuat). Tapi pada umumnya orang Prancis memiliki kendaraan pribadi. Untuk pemukiman warga, ada beberapa jenis perumahan / apartemen. Banyak perusahaan real estate yang mengelola perumahan warga. Untuk pelajar / mahasiswa telah dikelola oleh perusahaan real estate. Jadi kalau ingin menyewa rumah atau ‘logement’ (baca: lojemong) kita harus mengisi beberapa dokumen untuk mendapatkan kamar untuk pelajar. Saat ini saya mendapat kamar pelajar dengan luas kamar 28 meter persegi, yang sudah dilengkapi dapur, kompor listrik, kulkas, kamar mandi, tempat tidur, lemari baju, meja & kursi.  Sedangkan untuk keluarga ada peraturan tersendiri. Ukuran rumah / apartemen harus disesuaikan dengan jumlah keluarga. Untuk 1 orang minimal memiliki ruang 11 meter persegi. Jadi kalau sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan 2 anak, jadi 4 orang dikali 11 meter persegi, maka perumahan yang boleh disewa atau dibeli adalah berukuran minimal 44 meter persegi. Pihak pengelola perumahan tidak akan menyetujui jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah asuransi perumahan. Setiap rumah harus memiliki asuransi perumahan. Termasuk saya ketika menyewa apartemen, maka saya harus membeli asuransi untuk perumahan saya.

Gambar Residence Moliere – Apartemen Pelajar tempat dimana saya tinggal sementara. (Sumber : http://www.polehabitat-alsace.fr/)

Transportasi

Mungkin jika dibandingkan harga kendaraan di Jakarta, Indonesia, maka harga kendaraan di Prancis lebih murah. Tapi karena belum mampu beli mobil, maka saya naik kendaraan umum, bus. Di Prancis ada beberapa kendaraan umum masal, seperti bus, metro, Kereta (TGV, SNCF). Manajemen angkutan umum di Prancis sangat baik. Semua kendaraan telah dilengkapi GPS. Di setiap halte bus atau terminal juga terpampang jadwal kedatangan & keberangkatan bahkan papan monitor yang menunjukan waktu kedatangan bus secara real time.

Namun jika dihitung-hitung ongkos naik bus lumayan mahal utk harian. Sebenarnya ada pilihan lain untuk mendapatkan kemudahan dalam menggunakan fasilitas bus ini. Pengelola bus, Trace, menyediakan beberapa pilihan kartu abonemen bulanan. Tapi saya memilih menggunakan velo (sepeda). Secara dari tempat tinggal saya ke kampus hanya berjarak 4 KM.

Kepatuhan pengguna jalan juga cukup tinggi. Di setiap persimpangan jalan selalu ada tanda STOP. Maka hampir semua kendaraan harus berhenti walau hanya 1 detik. Dan pada setiap pertigaan atau perempatan jalan selalu dibuat jalan melingkar (seperti bundaran H.I di Jakarta). Kendaraan dari sebelah kiri atau yg sedang berada di jalur melingkar mendapat prioritas utama. Sangat jarang sekali saya melihat polisi lalu lintas yang berkeliaran di jalan raya atau mangkal, mungkin karena tidak ada pos.  Lalu dimana polisi bekerja. Karena hampir di setiap titik jalan strategis telah dipasang CCTV dan sensor, maka polisi lebih banyak monitoring layar CCTV dari kantor. Jadi pengawasan disini cukup ketat hanya melalui CCTV. Bahkan di jalan tol telah dipasang sensor untuk mengetahui kecepatan kendaraan. Jadi jika ada seseorang yang memacu kendaraan melebihi kecepatan yang telah ditentukan, maka (mungkin) besok atau beberapa hari kemudian akan ada surat tilang di dalam kotak suratnya.

Pendidikan

Tapi yang paling murah di Prancis adalah Pendidikan. Menurut informasi teman-teman dari Indonesia yang sudah membawa keluarganya ke Prancis dan telah menyekolahkan anaknya, mereka bilang bahwa sekolah di Prancis itu Gratis untuk anak TK hingga SMA. Namun untuk perguruan tinggi masih harus bayar, tapi itupun sangat murah sekali dan pasti terjangkau oleh semua orang tua di Prancis. Untuk informasi berapa biaya sekolah, hingga saat ini saya belum faham betul tepatnya. Mungkin ada informasi di Internet mengenai hal ini. Atau kita bisa bertanya langsung kepada petugas di lembaga Institut Français d’Indonésie, Pusat Kebudayaan Prancis (Center Culture France) atau Campus France yang berlokasi di jalan Salemba, Kramat, Jakarta Pusat. Banyak informasi bermanfaat yang dapat kita temuan pada situs tersebut. Tapi jika tidak mendapatkan informasi yang dicari, kita dapat menelpon atau langsung datang.

Budaya

Masakan adalah tema yang paling disukai oleh orang Prancis. Jadi jangan heran kalau orang Prancis suka makan dan banyak makannya. Mereka rela merogoh kantong dalam-dalam untuk sekedar makan enak. Makan siang dan makan malam adalah makan berat. Diawali dengan pembukaan, masuk menu utama lalu penutup.

Budaya orang Prancis pada umumnya ketika bertemu orang, baik yang dikenal ataupun tidak, adalah mereka selalu memberi salam, selamat pagi / siang (Bonjour, baca: bongzur), atau selamat malam (Bonsoir, baca: bongsoa) mengucapkan terima kasih (merci, baca: mersi), salam perpisahan (au revoir, baca=aurefoa).

Pejalan kaki, pengendara sepeda adalah prioritas dan dihormati oleh kendaraan bermotor, seperti mobil atau bus. Jalur sepeda dan pejalan kaki telah disiapkan di sepanjang trotoar. Jika tidak ada trotoar, maka jalur sepeda disediakan dijalan sub-way berdampingan dengan mobil dan bus. Budaya Indonesia yang masih belum bisa saya tinggalkan adalah biasanya jika menyebrang kita harus melihat ke kanan dulu & kiri kemudian, untuk melihat kendaraan. Selama ada kendaraan yang lalu lalang atau melintas, kita ketika sepi atau kosong tidak ada kendaraan, baru kita dapat menyebrang. Sangat berbeda di Prancis. Ketika kita menyebrang di tempat yang telah disediakan (zebra cross), maka pengendara mobil harus memperlambat kendaraannya dan berhenti ketika ada pejalan kaki yang hendak menyebrang.

Makanan

Mungkin bagi kaum muslim harus ekstra hati-hati dalam mengkonsumsi makanan di Prancis, karena agak sulit sekali menemukan restaurant yang halal. Tapi tidak perlu terlalu khawatir, di Prancis ternyata terdapat beberapa restaurant kebab yang halal, biasanya pemiliknya adalah orang-orang muslim keturuan Turki, Maroko, Tunisia atau Al-Jazair. Jadi daging yang diolahnya pun halal. Pada umumnya sosis di Prancis terbuat dari daging babi dan sapi. Bagi muslim ada pilihan untuk mengkonsumsi daging atau sosis halal berupa daging ayam, burung atau sapi yang telah mendapatkan sertifikat halal, dan tercantum pada kemasannya.

Namun agak sulit menemukan makanan khas Indonesia atau asia, seperti tempe, tahu, singkong, ubi atau buah-buahan seperti di Indonesia. Nah kalau kentang di Prancis banyak sekali dan relatif murah.  Kalau punya uang lebih bisa sekali-sekali makan di restaurant asia, seperti Vietnam atau China restaurant.

Makanan khan orang Prancis adalah ‘couscous’ (baca: kuskus). Asal muasal makanan ini adalah dari negara-negara Maghreb, seperti Aljazair, MAroko, Tunisia dan Libya. Makanan ini terbuat dari beras.

Kesehatan

Sistem proteksi kesehatan dan medis di Prancis bisa saya bilang sangat baik dan berkualitas. Bisa dikatakan hampir semua orang di Prancis memiliki asuransi kesehatan. Loh…kenapa? Karena asuransi (atau Securite Sociale) akan mengganti biaya kesehatan yang kita keluarkan sebesar 60% – 100% tergantung jenis asuransi yang kita beli. Dan jika kita tidak punya asuransi, belum berobat aja bisa kabur kali…karena biaya sewa kamar saja perhari 1000 euro!!!  Sampai ada sebuah iklan asuransi di Prancis yang membawa seorang pasien turun dari ambulan langsung lari tidak jadi masuk ke UGD dikarenakan pasien terebut tidak punya asuransi kesehatan & takut akan tagihan yang sangat mahal.

Advertisements

Tags: , , , ,

5 Responses to “1 Bulan Pertama di Colmar, Alsace, Prancis”

  1. rudi hartono Says:

    assalamu’aliakum wr.wb.
    selamat malam waktu indonesia pak… hehehe
    gmana kabarnya setelah sampai di negri orang,,,

    Like

  2. Lia Says:

    salam kenal,
    saya mau tanya, di prancis ada sebuah lembaga untuk garant ga yah? karena sampai sekarang saya masih terhambat untuk menyewa rumah karena tidak memiliki garant yg sesuai dgn ketentuan dari pihak pemilik rumah. thx

    Like

    • abdusy syarif Says:

      Salam kenal Mbak Lia, biasanya dengan bukti slip gaji / beasiswa sudah cukup. Intinya jika Anda bisa menyediakan bukti pendapatan (income) tiap bulan, biasanya pihak pemilik rumah tidak masalah.

      Like

  3. DREAMS BOOK YANG TERTUNDA | Abdusy Syarif Says:

    […] satu bulan lamanya, saya tuangkan sedikit tentang bagaimana awal kehidupan di negeri Heksagon ini. “1 bulan pertama di Colmar, Alsace, Perancis” dan ini juga ada sedikit berbagi pengalaman saya tentang “sekelumit wawancara tentang hidup […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: